And Then There Were None – Agatha Christie

and-then-there-were-none

Wow,, itulah kesan yg ditinggalkan oleh novel ini ketika saya selesai membacanya dan novel ini langsung menjadi novel favorit saya sampai saat ini.

Cerita detektif tanpa detektif. How could it possible?

Berbeda dengan novel-novel detektif lainnya, ratu detetif Agatha Christie tidak menghadirkan Hercule Poirot, Miss Marple atau tokoh detektif lainnya mengalirkan cerita begitu saja dengan tokoh-tokoh yang berperan sebagai korban.  Perlu dicatat pula bahwa novel ini pertama kali diterbitkan tahun 1939 dan tetap mengagumkan ketika dibaca di tahun 2016.  Saya sudah membaca buku ini berkali-kali dan tetap menemukan kalau buku ini sangat keren.  Walaupun ketika dibaca untuk kesekian kalinya kita pasti sudah tau jalan ceritanya, tapi saya tetap kagum dengan cara Agatha Christie menggiring pembacanya dari satu kejadian ke kejadian berikutnya.

Judul asli dari novel ini sendiri ada 2 versi yaitu “Ten Little Niggers” dan “And Then There Were None”.  Ada juga yang meyebutkan kalau judulnya diadaptasi menjadi  “Ten Little Indians”.

Tapi menurut saya pribadi judul “And Then There Were None” memang adalah judul yang paling sesuai, karna setelah selama membaca novel ini saya merasa digiring ke perasaan mencekam dimana korban berjatuhan satu persatu sampai akhirnya….. None,

Sepuluh tokoh dihadirkan dalam novel ini dan dipertemukan di rumah mewah di pulau indian. Delapan orang diantaranya adalah tamu yang mendapatkan undangan misterius sedangkan dua orang adalah pelayan yang disediakan untuk melayani para tamu oleh tuan rumah yang misterius ini. Tidak ada kecurigaan di antara mereka karena sepuluh orang ini tampak seperti orang biasa,beberapa malah orang yang terhormat, namun demikian ada satu kesamaan diantara mereka yaitu masing-masing dari sepuluh orang tersebut memiliki kejahatan besar dan luput dari hukum.

Tidak perlu waktu lama untuk sampai ke panggung utama cerita di novel ini. Semacam para tamu ini tidak diberikan kesempatan untuk menikmati pulau indian yang sedang sangat terkenal ini.  Segera setelah semua orang berkumpul, satu orang meninggal ketika makan malam pertama mereka di pulau itu.  Dan kematian kedua pun terjadi segera setelah kematian kedua.  begitu seterusnya sesuai dengan sajak “Ten Little Indian” yang tergantung di salah satu dinding di rumah mewah itu.

“ Ten little Indian boys went out to dine, one choked his little self and then there were nine.

Nine little Indian boys sat up very late, one overslept himself and then there were eight.

Eight little Indian boys traveling in Devon, one said he’d stay there and then there were seven.

Seven little Indian boys chopping up sticks, one chopped himself and then there were six.

Six little Indian boys playing with the hive, a bumblebee stung one and then there were five.

Five little Indian boys going in for law, one got in Chancery and then there were four.

Four little Indian boys going out to sea, a red herring swallowed one and then there were three.

Three little Indian boys walking in the zoo, a big bear hugged one and then there were two.

Two little Indian boys sitting in the sun, one got frizzled up and then there was one.

One little Indian boys left all alone, he went and hanged himself and then there were none.”

Sangat sulit untuk berhenti membaca buku ini sebelum selesai, karena kejadian demi kejadian belangsung begitu cepat.  Terlebih dengan tidak menampilkan tokoh detective secara konvensional, sehingga membuat cerita menjadi semakin mencekam. Di pikiran saya sudah tertanam bahwa hanya ada sepuluh orang di cerita ini dan mereka semua akan tewas sesuai dengan sajak Ten Little Indians tadi.  Kemungkinan kalau ada orang kesebelas juga kecil, karena tokoh di luar sepuluh orang ini hanya akan menghancurkan plot yang sudah dibuat.  Yang paling memungkinkan adalah bila orang kesepuluh lah pelakunya, tetapi untuk buku sekelas Agatha Christie tentu itu terlalu mudah untuk ditebak bukan?

Nah.. nah…nah,,,, bagaimana cara Agatha Christie meramu cerita sehingga 10 orang pendosa ini berlarian menuju kematian mereka sesuai dengan plot sajak yang ditanamkan ke pembaca sejak awal buku memang luar biasa. Apakah benar orang kesepuluh adalah pelakunya? Apakah orng yang sudah tewas bangkit lagi dan membunuh orang? Lalu bagaimana kasus ini dapat terungkap?  Ahh saya sangat gregetan untuk spoiler, tapi memang harus membaca sendiri untuk menikmati sensasi thriller dan suspense ceritanya.

Yang jelas novel ini masih di urutan paling atas untuk kategori novel detective di list saya, setiap kali ada teman yang minta rekomendasi novel detective saya pasti langsung merekomendasikan judul ini.

Istimewa,, sangat istimewa. Salut untuk Agatha Christie.

5 dari 5 bintang untuk novel detektif ini.

Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s