Kartini dan Kebebasan

Semalam saya nonton film Kartini yang diperankan oleh mbak Dian Sastro.   Film ini bagus banget menurut saya. Untung saya bela2in nonton semalem, sebelum film itu turun tayang.. Fiuuhhh!! Seru rasanya mendengar Bahasa Jawa campur Bahasa Indonesia medhok dan Bahasa Belanda.  Aktingnya mbak Dian sebagai Kartini, jauuhhhh lebih enak ditonton dibandingkan pas dia jadi Cinta di AADC2,,…*tetep lho dikomen AADC2nya..

jahat
opo jal iki? (=_=)

Sungguh sebagai Kartini, mba Dian suskses banget menurut saya.  Mba Dian bisa menggambarkan Kartini yang masih ABG yang bosan dipingit, yang penuh rasa ingin tau, tengil juga, cerdas tentu saja, dan ga pernah habis akal.

Perlu dicatat kalau menurut wikipedia, Kartini ini meninggal di usia 25 tahun ya, beberapa hari setelah melahirkan putranya yang pertama. (Muda banget ya…. T__T).  Jadi fragment yang paling terkenal dari hidup Kartini adalah pas dia masih bergelar Raden Ajeng, masa dimana Kartini berada dalam pingitan (umur 12 tahun. 12 tahun!?!) menjelang menikah. *kalau sudah menikah gelarnya berubah menjadi Raden Ayu.*

Saya pikir yang namanya ABG (Anak Baru Gede,-red) di semua jaman itu ya pasti mirip2 lah kelakuannya, mulai kritis dan susah diatur.  Begitu pula Kartini yang 12 tahun ini, walau beliau ini jadi ABG di akhir tahun 1800an ya tetap saja rasa kritis dan memberontak ada dalam jiwa Kartini muda.  Apalagi ketika dia harus menghadapi pingitan sambil melihat sang kakak laki2, RMP Sosrokartono, bisa pergi belajar ke negri Belanda. Kesel lah pasti Kartini ya, bukan kesel sama kakaknya ya.. dia kesel dengan keadaan. Beda nasib kok gitu amat lho, sama2 anak bangsawan padahal.

Untunglah sang kakak paham dengan adiknya.  Dalam film digambarkan dengan jelas bagaimana  RMP Sosrokartono  iba terhadap Kartini yang harus masuk pingitan lalu dia memberikan kunci kamarnya yang berisi banyak buku.  Buku2 ini lah awal mula segala petualangan Kartini.

Kartini tampaknya adalah tipe anak (masih ABG kan dia), yang suka “testing the limit”.  Dia tidak dengan serta merta menuntut ini itu. Tapi dia menyadari apa batasan2 dalam kehidupannya sambil mencari celah untuk dicoba satu persatu. Dari membaca buku sampai mengirim korespondensi dan artikel sampai membuka sekolah kelak.  Semuanya dilakukan melalui proses negosiasi2 kecil yang ga sanggup ditolak oleh lingkungannya :)).  Tetap dengan sopan santun dan koridor adat yang ia junjung.  Saya yakin Kartini ini pasti gigih, tekun, badung, keras kepala dan entah harus didefinisikan apa lagi.. tapii puiinterrr banget,,,,, Hahahhaaaaaaa… Bahkan dia hanya mau menikah bila syarat yang dia ajukan diterima. She knows how to negotiate. Walau negosiasi ini sangat menyedihkan… tapi tampak betapa kuat nya dia.

persistence
kuncinya : Persistence.

Ada satu hal yang lovable dari Kartini yaitu antusiasmenya terhadap buku, pengetahuan dan dunia luar. Saya bisa membayangkan binar matanya, kalau sedang berbicara. *Pernah ga sih memperhatikan orang yang sedang berbicara mengenai hal yang dia suka, pasti matanya sangat berbinar dan kebahagiaan pasti terpancar dari raut wajahnya.  Seneng banget saya kalau ketemu dan mengobrol dengan orang seperti ini. Lemah saya terhadap orang2 semacam ini… Hahahahaaa……Nah! saya kok yakin Kartini punya mata itu.

Mata yang bisa membuat Ayah dan Kakak laki2nya luluh sehingga mereka memberi kelonggaran kepada Kartini dalam masa pingintannya. Eh, tapi bukan hanya Ayah dan Kakaknya saja yang luluh ya… tapi macam semua orang termasuk abdi dalem, saudara2nya dan tuan nyonya Belanda juga kepincut sama Kartini.  Susah memang menolak pesona mata orang yang punya antusiasme. Susaahhh!! =D

Ayah Kartini memiliki peran besar dalam perkembangan pikiran Kartini, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat “membiarkan” Kartini membaca berbagai buku, menulis berbagai artikel bahkan bertemu (alias keluar rumah padahal sedang dipingit) dengan nyonya Belanda yang akhirnya menerbitkan segala tulisan Kartini.  Saya sangat bisa merasakan rasa sayang seorang Bapak kepada Anak Perempuannya, dengan “membiarkan” Kartini melakukan yang dia suka.  Itu lah menurut saya wujud kasih sayang terbesarnya.  Membebaskan anaknya semampunya.

Kalau tidak bisa membantu, ga ganggu juga sudah cukup kok. gitu kali ya kasarannya.

Tapi jangan salah! Ayah Kartini membela mati2an tekad Kartini untuk mendapatkan beasiswa belajar ke Belanda lhoo… sampai harus berdebat ribut dengan saudara2nya para penguasa dan bangsawan tanah Jawa lainnya. Ayah Kartini pasti juga mendapat tekanan dari mana2 karena tindakan Kartini.  Repot juga pasti si Bapak ini pasti.

Hal yang justru membuat saya heran adalah mengapa Kartini malah mendapatkan tentangan dari wanita2 di sekitarnya?

Lucu kan sebenarnya kalau Kartini yang katanya memperjuangkan hak2 wanita kok malah dihalangi oleh ibu tiri dan ibu kandungnya.  Padahal Ayahnya, kakak2 laki2nya para tuan nyonya Belanda semua bisa luluh dengan tekad Kartini. Hendak ditolong bukan saja tidak mau, tapi malah berusaha menghentikan usaha si penolong.

Itulah buktinya kalau wanita2 tersebut terjajah sampai ke pemikiran terdalam mereka.  Ibu kandung Kartini, dengan kondisinya yang bukan bangsawan, jelas menentang sebisanya karena dia khawatir dengan nasib Kartini. Namun yang aneh adalah Ibu tiri Kartini.  Ia merasa kalau tidak adil karena dia yang sudah mengorbankan segalanyaaaaaaa…mengikuti segala aturan bangsawan ini itu supaya dia bisa diterima dalam lingkungannya, menjaga nama baik keluarga. Berusaha memenuhi keinginan adat dan masyarakat.  Lalu segala susah payahnya tampak sia-sia, karena Kartini yang tidak patuh ini boleh mendapatkan apa yang dia mau.  Klasik ya.  =) Memang hanya ada 2 cara untuk survive : bertahan atau melawan. ya pasti berantem kalau kedua pihak ini ketemu.

Hal mengherankan lainnya adalah penjajah Belanda yang malah tampak seperti protagonis di Film Kartini.  Belanda itu kan imej nya selalu jadi penjahat ya… Bahkan belakangan ini kok kayaknya saya beberapa kali membaca artikel yang mempertanyakan gelar pahlawan Kartini dan mengapa dia satu2nya yang memiliki hari peringatan.  Lalu Kartini dibanding2kan dengan pahlawan wanita lain misalnya Cut Nyak Dien. Tsaaaahhhh,,,, untuk apa dibandingkan sih sebenarnya?

Kartini itu bahkan “terjajah” oleh adat keluarganya sendiri lhoo….  Perjuangan keluar dari penjajahan lah yang harusnya dihargai.  Penjajah itu tidak saja dari bangsa luar… bisa jadi malah dari bangsa sendiri.  Kebayang ga sih, kalau yang membatasi, mengekang dan memasung kita adalah lingkungan keluarga sendiri?  Mau dilawan kok ya keluarga, mau bertahan kok makan ati…Pada akhirnya Kartini pun harus mengalah untuk menikah dan dipoligami karena rasa baktinya terhadap orang tua kan?  Keluarga dan adat terlalu besar untuk dilawan Kartini seorang diri.  Tapi minimal Kartini tidak kalah dengan mudah… Mungkin dia juga tau kalau dia tidak mungkin menang, sehingga negosiasi terakhirnya itulah yang dia perjuangkan. =)

Lagipula emangnya Kartini punya niat untuk jadi pahlawan apa? Rasa2nya kok tidak.  Kartini hanya ingin memiliki kebebasan. Bebas berkalana ke negeri jauh. Walau hanya lewat buku dan tulisan.

Kartini_Kardinah_en_Roekmini_TMnr_60033327.jpg
Kartini_Kardinah__Roekmini

Kalau masih ada fim nya boleh lho ditonton Film : Kartini karya Hanung Bramantyo ini.  Pasti sangat berkesan.

Sekarang saya sedang sangat ingin membaca : Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer nih.  Ada yang mau kasih pinjam? =)

Salam.

 

 

5 thoughts on “Kartini dan Kebebasan

      1. *Daripada AADC* tadi maksud ku ya… ahahhaaaaa…
        sekarang dah Guardian of Galaxy semua isinyaaa….
        aku belain nonton di PIM semalem.. hahahahaaa….

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s