[Mendadak Dewasa] : Membeli Rumah

Grow up

Tahun 2016 saya sering ngoceh ga jelas sama Jojonim, pengen banget bikin rubrik di blog yang namanya : Mendadak Dewasa.
Hahahahaaaa…. 
Alesannya adalah kami (atau saya doang sih kyknya) protes : kenapa kami mendadak musti ngurusin  urusan yang dulu dikerjain ama mama2 kita..
Kenapa abis gajian, mendadak musti ngurusin bayaran cicilan ini itu  : Rumah lah (saya), mobil lah (Jojo), bayar kosan lah, kartu kredit lahh, arisan lahh..
Dulu sering banget pas gajian udah masuk, kita berdua pulang kantor langsung barengan ke atm untuk menunaikan tugas negara yaitu transfer kiri-kanan…bolak-balik dari 1 atm ke atm yang lain demi ga kena potongan Rp.6500,- buat ongkos transfer…. hahahahhaaa….See? udah kaya emak2 kannn…………….

Ini kejadiannya pas kita berdua masih single ya…
Lha nikah aja belum kok udah kaya emak2 ya ini?  Sejak kapannn rutinitas kami berubah? sejak kapann??? kami mendadak dewasa… kenapa hayooo kenapaaaa??? 😥 😥 😥

adult

Tapi ya di balik segala kerempongan ini, tentu saya bersyukur luar biasa udah dikasih rejeki untuk beli rumah.

Notes : Saya akad kredit rumah tahun 2015 dengan KPR Bank DKI.

Nah jadi apa saja yang harus dipikirkan bila hendak melangkah menjadi orang dewasa dengan membeli rumah? yuk mulai dipikirkan bareng-bareng.

(1) Rumah atau Apartment ?

Ini bahasan keributan pertama saya dan mas pacar. 🙂

Kalau saya harus tinggal di Jakarta selamanya, sejujur-jujur-jujurnyaa cita-cita saya sendiri adalah cukup punya apartment saja.

Efek terlalu lama jadi anak kos plus tinggal di apartment selama job assignment membuat saya merasa kalau paling nyaman itu ya tinggal di apartment.
Toh ya kita hidup cm butuh kamar tidur,dapur (pantry aja juga boleh) ama kamar mandi to?
Buat apa musti punya rumah coba? Saya suka yang simple dan praktis, maka jawabannya adalah Apartment. Bisa pilih area di dekat kantor mungkin ya.
Tapi mas pacar punya kehendak lain rupanya : doi maunya punya rumah. Bangunan yang nempel di tanah. pakai taman ama halaman.  *panjang requirement nya emang* Untung dia ga minta ada empangnya. ^^’ ^^’

Pada akhirnya dengan pertimbangan rasa malas saya untuk berdebat, budget dan lokasi rumah-kantor, kami memutuskan untuk beli rumah (terlebih dahulu). Iyes, saya tetep mau punya apartment entah kapan. Pokoknya paling ga saya mau punya apartment satu unit (atau condotel juga boleh lah*ngarep).  Bahahahahahahaaaa…..

Pertimbangan utamanya sih sebenernya budget ya.. di daerah Jakarta ini kok saya rasa harga apartment itu terlalu mahal untuk spec yang ditawarkan. Okelah ada alasan untuk mahal karena lokasi misalnya, tapi spec building dan design layout nya kok ya ga sepadan dengan harganya. Menurut saya lho ini….

Untuk yang tinggal di daerah Jakarta, beberapa tahun belakangan ini sering diadakan pameran property  di JCC. Lihat-lihat saja dulu untuk belajar tentang spesifikasi rumah, lokasi,skema pembayaran. Belajar dulu untuk lebih familiar dengan istilah-istilah property.
Siap-siap saja berhadapan dengan agen-agen property yang akan sangat agresif. Hahahhahaaaa… tapi ya ini urusan uang yang nominal sangat besar sih.. jadi walau laper mata pengen beli, tetep bakal mikir lamaaa banget…
Kecuali situ tajir.  😛

(2) Lokasi

Anda kerja di Jakarta? Kalau iya maka pemilihan lokasi ini musti dipikirkan seeebaik-baiknyaa.. Setelah saya tinggal di rumah saya yang baru, saya merasa ada 2 hal utama yang seharusnya saya pikirkan lebih mendalam yaitu :

Kualitas lingkungan dan Access

  • Kualitas lingkungan akan berkaitan dengan kita ini tipe orang seperti apa. Apakah suka yang ramai atau yang sepi. Suka lingkungan yang guyub atau yang cuek.
    Kalau dari sisi keamaanan dan kesehatan : cek apakah daerah rumah yang mau dibeli bebas banjir. Kalau rumah kita dekat dengan sungai, cek apakah sungainya kotor atau tidak.
    Cek juga apa ada klinik atau RS yang dekat. Menurut saya sepanjang daerahnya sesuai dengan sifat kita lalu dekat dengan rumah sakit, itu aja sudah cukup.

    Rumah yang saya pilih ini posisinya masih di tengah-tengah kebon, hahahaaa… halaman depan dan belakang masih gede. jadi udara masih sangat bagus.
    Saya jadi rajin bangun pagi.
    Yang terlewat dari saya adalah kondisi rumah di tengah kebon ini bikin rumah saya suasananyaaa sepiiiiiiiiiiiiiiiii banget..
    saya memang lebih suka yang sepi, tapi saya jujur agak serem masalah keamanan.. *pasang tralis di semua tempat, piara guguk herder gedee 🐻 🐻 *

     

  • Access.
    Yang tinggal di Jakarta tentu sangat paham masalah macet dan penuh sesaknya jalan di mana-mana.
    Jadi ketika hendak membeli rumah, pikirkanlah transportasi apa yang akan kita ambil menuju ke kantor.
    Lalu lihat fasilitas yang ada di sekitar rumah yang hendak Anda beli. Apakah jalannya bagus? muat untuk mobil? Tidak berbahaya untuk pengguna motor? Apakah ada jalan tol? Apakah dekat dengan stasiun kereta? Apakah sudah ramai dengan angkutan online?
    Simulasikan seolah-olah kita tinggal di rumah itu dan besok adalah hari Senin dimana kita harus berangkat pagi-pagi sekali. Kalau kita kira-kira sanggup menjalani rutinitas pagi semacam itu untuk minimal 5 tahun ke depan maka rumah itu bisa jadi sesuai untuk kita.

Setelah survey sana sini dan pikir ini itu, kami memutuskan untuk membeli rumah di daerah Pancoran Mas, Depok dengan jarak tempuh rumah ke kantor cilandak kira2 40 menit naik motor….(Dulu) saya dan mas pacar ini sekantor,,,dan merasa bakal mengabdi selamanya di kantor itu. tsaaahhhh……

Tapiiiiiiiiiiiii…..konyolnya adalah setelah saya beli rumah ini, 3 bulan setelah tanda tangan akad rumah,,,,saya pindah kantor…..pindah dengan keinginan sendiri,,,,Dong2!Dong2!…. dan blog ini bahkan ditulis pas saya sudah pindah kerjaan lagi ke Bintaro…… ^^’ ^^’ ,,, makin tua saya makin mikir, sebenernya saya ini nyari apa sih? ga jelas tujuannya…perginya kemana, nyampe nya dimana…..
^^’ ^^’

(3) Money Plan!!

finance.jpg

Dan akhirnya yang harus benar2 diperhatikan dalam membeli rumah yaitu budget nya… hahahahaaa…yaiyalah….money talk!
Ukur kemampuan finansial kita.
Kalau mampu untuk bayar cash ya mantab! Kalau saya ya ga sanggup wong saya anak kemaren sore baru kerja 5 tahunan, jadi saya mulai mengurus pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Mengenai syarat-syarat pengajuan KPR, kita cukup mengumpulkan dokumen sebagai berikut, tidak terlalu rumit lah.

(1) Dokumen pribadi

  • KTP
  • Akta kelahiran
  • KK
  • NPWP
  • Surat Domisili (karena KTP dan KK saya belum Jakarta)

(2) Dokumen terkait kondisi keuangan

  • Slip gaji 3 bulan terakhir
  • Surat keterangan bekerja
  • Surat pengangkatan pegawai oleh kantor
  • Print out buku tabungan 3 bulan terakhir

Setelah pengumpulan dokumen, pihak Bank akan mengecek history perbankan kita lalu menentukan jumlah plafon KPR yang mereka setujui.

Ada 2 komponen dalam pembiayaan rumah yaitu : DP dan plafon KPR. Yang nominalnya akan saling mengurangi. Saya bagi jadi 2 tahap ya : Urusan DP dan Urusan Cicilan.

  • Urusan DP

    Yang krusial semua ini : duit tabungannya udah cukup buat bayar DP apa belum ini ya? ^^’
    Ketahuilah wahai anak muda, bahwa kalau mau memakai skema KPR, maka DP yang dibutuhkan itu minimal sebesar 30% dari harga beli rumah.  Kalau rumah yang mau dibeli 600 juta misalnya, berarti kita harus punya uang 200 juta di depan untuk DP. 200 jutaa men!!
    Buat anak umur 27 tahun kayak saya yang biasanya cuma jajan cilok, 200 juta itu banyakkk…
    money
    Ya memang ada yang menawarkan DP 0% apalagi kalau sedang dalam event pameran.  gratis ini itu lah. Tapi ketahuilah juga bahwa DP itu akan mengurangi jumlah hutang yang ditanggung oleh KPR nya.  Yang ujung2nya akan mempengaruhi nilai cicilan per bulan.  Jadi, secara sederhana, kalau ga pakai DP, ya pasti cicilannya bakal tinggi luar biasa atau masa pinjamannya(tenor) bakal lamaaa banget….

    Yang jelas pasti ada komponen lain yang harus mengkompensasi si DP nol persen atau rupiah ini….nah tinggal itung2 saja lahh mana yang lebih menguntungkan….. *kayaknya sih gitu ya… boleh dikoreksi*

  • Urusan cicilan
    Kekhawatiran terbesar saya pas mau membeli rumah lah  waktu itu (sampe sekarang ding).  Bisa bayar cicilannya ga nih? masih ada sisa gaji apa enggak ya? ^^’
    Dari awal saya maunya kondisi ekonomi saya pasca beli rumah ga boleh mlarat2 amat,Bahhahahaaa…… jadi saya mau cicilan per bulan musti sekecil2nya… walau konsekuensinya ya DP nya memang musti besar. Huks!
    Apalagi saat saya mengajukan KPR, saya dan mas pacar statusnya belum menikah, sehingga kami ga bisa mengajukan KPR dengan double income.
    Hanya bisa  atas nama satu orang saja, yang setelah kita pelajari sebenernya akan lebih menguntungkan kalau mengajukan KPR atas nama mas pacar, tapi karena mas pacar mendadak musti job assignment jadinya KPR mau tidak mau diajukan atas nama saya.
    Hasilnya? Plafon KPR yang disetujui oleh Bank jadinya terjun bebas… dan saya harus nombok DP.   Tapi ini ya termasuk kategori : a blessing in disguise sih ya menurut saya… karena alhasil cicilan saya per bulan jadi masuk akal.
  • Biaya Lain-lain
    Biaya lain-lain ini yang beneran luput dari pengetahuan saya waktu itu.  And it cost me : IDR 38.000.000,- cash, on mortgage contract signing day! Cash di hari H tanda tangan akad kredit !!  Setresss lah saya..

    Si 38 juta ini meliputi : – Biaya administrasi bank – Cicilan pertama – Asuransi jiwa dan property – Biaya notaris (akan ada banyak rincian termasuk : balik nama dan PBB) – pajak pembeli.

    Asliii saya kesel setengah mati sama developer dan orang bank yang ngurus  KPR saya waktu itu, alasannya biaya itu udah umum kalau mau KPR ya harus disiapkan.
    Ya saya ga beli rumah tiap harii siihh,kakk!! paling ga nominalnya di share gitu lhooo…. masih kesel sampai sekarang. Wuu!!!
    cash.jpg
    Soo.. para pembaca yang budiman, tolong ditanyakan detail kalau mau akad kredit : ada biaya tambahan tidak yang harus dibawa di hari H.

 

In the end, Membeli rumah adalah step terbesar dan paling kerasa dalam proses mendadak dewasa saya.
Komitmen paling besar yang pernah saya ambil, soalnya saya sekarang terikat hutang 20 tahun yang baru dijalani 2 tahun …hahahahhaaaaa…. masih kuatt!!! Semangat kerja kaya orang gila!! 😎 😎

Komitmen ini menuntun (baca : menyeret) saya  ke komitmen selanjutnya : Berkeluarga..
Gileee!!! bekeluarga?! how did I get here?

IMG-20170521-WA0000

Mendadak housewarming seminggu setelah nikah bareng teman2 Tekkim’05 ❤

Salam ❤ ❤

4 thoughts on “[Mendadak Dewasa] : Membeli Rumah

  1. Suka sekali sama tulisannya kaka dana ❤️️
    Semoga pernikahannya diberikan banyak keberkahan ya kak ❤️️❤️️

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s