Posted in books, movie

[MOVIE REVIEW] : EVERYDAY

Yuk kita bahas Film yang judulnya Everyday.

Everyday ini diangkat dari buku dengan judul yang sama. Pengarangnya David Levithan. Saya ada cerita sendiri nih dengan buku ini. Jadi saya udah nemu buku ini dari tahun 2011. Saya kalau lagi jalan ke mall pasti cari toko buku, padahal ya ga beli. Hahahaha.. Toko buku itu tetep selalu magical buat saya. Cuma baca ringkasan di sampul belakang buku atau muter-muter di bagian stationery tetep lebih menyenangkan dibandingkan jalan ke toko baju.

Nah tahun 2011 saya lihat buku ini terpajang di salah satu pojok Kinokuniya. Masuk Best seller kayaknya. Sampul bukunya sama seperti yang saya taruh di atas. Di sampulnya ada tag line nya begini :

Every day a different body.
Every day a different life.
Every day in love with the same girl. 

Baca segitu aja saya udah: woaahhh cerita apa ini kok kayaknya seruuu.. Tapi walau kayaknya bakal seru banget sampai tahun 2019 ini saya tetep ga beli bukunya. Tiap kali lihat ini buku tahun demi tahun (yes,, semacam hampir 10 tahun, 1 dekade,) saya hampir selalu pegang buku ini untuk baca lagi sinopsis di sampul belakangnya. Buku ini kayaknya hampir selalu ada di Gramedia, Periplus dan teman-temannya.

ini antara medit ma takut komitmen ga kelar aja bacanya sih.

Bahagianya, beberapa hari yang lalu saya nonton film yang diadaptasi dari buku ini!!! Ternyata tahun 2018, buku ini diangkat jadi film. Waaaaaaaa… langsung lah saya siapkan petarangan supaya bisa nonton dengan tekun.

Every_Day_(2018_film).png

Ringkasan ceritanya seperti ini, ni pakai bahasa saya sendiri ya tapi :

Ada sesosok “jiwa” – semacam spirit, roh apa deh gitu ya- bernama “A”. Dia memperkenalkan dirinya sebagai “A”, yang setiap hari bangun pagi di tubuh yang berbeda. Setiap hari dia meminjam tubuh dan memori seseorang lalu menjalani hidup si orang yang tubuhnya dipinjam ini. “A” hanya bisa meminjam tubuh orang ini sekali. Tidak pernah bisa 2 kali.

Lalu entah kenapa si “A” ini bisa meminjam tubuh orang-orang yang berada di sekitar seorang gadis bernama Rhiannon dan lama-lama “A” naksir sama Rhinanon.

Seru kann…..

“A” ini ga punya gender ya. Bisa saja hari ini jadi anak cowo keren  lalu besoknya dia jadi cewek cheerleader atau cewe aneh atau cowo culun homeschooling. Dia ikut gender pemilik tubuh yang dipinjam. Bisa jadi siapaaa saja asal seumuran sama si Rhiannon. Intinya “A” ini tuh cuma kaya spirit gitu aja. Dia punya kesadaran sendiri sebagai “A” tapi setiap merasuki orang dia punya akses ke semua memori si pemilik tubuh.

“A” selalu takut ketahuan oleh pemilik tubuh yang dia pinjam. Tapi bagaimanapun juga dia tetep pengen merasa jadi seseorang yang punya memori juga. Jadi dia mengabadikan foto setiap hari (dengan wajah orang-orang yang diarasuki) dan dia simpan ke sosmednya dia. Sebelum jam 23.59 setiap hari “A” memastikan harus log out sosmed nya dan menghapus semua data histori browsingnya, kalau tidak maka bisa jadi si orang yang dipinjam tubunya itu sadar kalau sehari sebelumnya dia dirasuki.

Lalu siapa si mbak Rhiannon ini? Rhiannon ini adek-adek ABG yang keluarganya sedang retak. Ayahnya baru saja di PHK dan kemudian jiwanya terguncang. Ibunya harus gantian mencari nafkah sehingga Rhiannon ini jadi kurang perhatian.

Seperti dedek dedek ABG pada umumnya Rhiannon yang kesepian ini naksir dengan bintang basket di sekolahnya yang bernama Justin. Naksir banget lah, sampai dia mengirimi sms buanyaaakk banget. Caper gitu dia ke Justin.
Justin seperti tipikal cowo gaul di SMA tentunya adalah anak yang sok keren, tengil dan brengsek sok iye gitu lah. Ga peduli dia sama si Rhiannon. Padahal Rhiannon ini sudah terklepek-klepek padanya.

Sampai pada suatu hari “A” bangun di badan Justin.

Capernya Rhiannon tiba-tiba kok ditanggapi oleh Justin (yang isinya si “A”) dan mereka berdua menjadi sangat dekat dalam waktu seharian itu. Saking dekatnya sampai Rhiannon bercerita tentang keadaan keluarganya kepada “Justin”. Rhiannon sungguh-sungguh merasa menemukan orang yang mengerti dia hari itu. Happy banget dia.

Sayangnya besok paginya Justin yang asli sudah kembali dan ga ada ramah-ramahnya sama Rhiannon. Balik lagi tengil dan rese nya. Rasa suka Rhiannon kembali bertepuk sebelah tangan. Tapi ya dia tetep ngeyel ngejar-ngejar Justin walau ga dianggep.  Di saat yang sama “A” mulai merasakan keterikatan emosional dan simpati kepada Rhiannon. 

“A” mulai mencoba untuk mendekati Rhiannon walaupun dengan wujud yang berbeda tiap hari. “A” memberikan kode-kode dan perhatian lebih kepada Rhiannon melalui orang-orang kenalan Rhiannon yang kebetulan dia pinjam tubuhnya.  Jadi setiap hari akan selalu ada 1 orang yang selalu menghibur Rhiannon. Ga pernah sepi sendiri lah si mbak ini. Ditemenin terus sama “A” walau wujudnya entah siapa. so sweet banget ya…

Makin lama “A” makin naksir dengan Rhiannon sampai akhirnya dia memutuskan untuk membuka identitasnya dan singkat cerita Rhiannon percaya. Dari sini ceritanya makin so sweet karena kita akan disuguhin Rhiannon yang deg-degan menebak jadi siapa si “A” hari ini lalu mereka akan menghabiskan waktu seharian dengan bahagia. Cinta-cintaan anak remaja yang sangat manis deh. Banyak kocaknya juga karena “A” bisa saja tiba-tiba bangun di badan anak yang mau pindah ke negara lain lalu kabur-kaburan dikejar mama anak yang dipinjamnya.

Tapi yang namanya orang jatuh cinta itu. Makin lama makin serakah ya. Semakin pengen menghabiskan waktu lebih lama bersama tanpa harus cari-carian di pagi hari atau buru-buru pergi sebelum tengah malam. Apalagi ternyata “A” mampu meminjam tubuh orang lain lebih dari 1 hari.

Hmmm… stop di sini saya ceritanya. Apakah “A” tega merampas badan orang yang dipinjam supaya akhirnya bisa hidup normal dan lanjut cinta-cintaan sama Rhiannon? Tonton aja ya.. atau baca deh. kan ada bukunya juga.

Why do I like the movie?

Dari sisi “A” dulu ya. 

Bayangkan. Gimana rasanya punya hari baru setiappp hari. Like literally “a brand new day”  setiap hari. Mau tiap hari messed up juga bodooo amat. Kan besok juga udah ga jadi orang ini lagi. Kita bisa escape setiap saat. Ngawur aja hidupnya besok udah re-start lagi. Enak banget ya. Saya pengen nyobain deh beneran. Bisa mengintip hidup banyak orang tiap hari. Sambil cicip dikit rasanya jadi orang lain.

Tapi ternyata “A” menceritakan sisi sebaliknya. “A” menunjukkan kelelahan dan keinginan untuk jadi dirinya sendiri yang utuh. Terutama ketika mulai dekat dengan Rhiannon. “A” ingin punya memori dan histori tentang dirinya sendiri. Ingin pula diingat orang lain. “A” ingin menjadi A. Bukan Justin, bukan Nathan. bukan nama lainnya.

Karena buku (dan film) ini genre nya Young Adult yang mana targetnya memang ABG remaja gitu, mungkin pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya adalah : Kamu bisa berpura-pura atau meniru orang lain tapi akhirnya kamu akan lelah dan hanya ingin jadi diri sendiri. Mungkin itu kali ya message nya . Mungkin ya ini.. Mungkin aja.

Kalau dari sisi Rhiannon,

Jujur saya masih agak bingung dan ragu sama message yang saya tangkap.  Pesan yang saya tangkap adalah :

Love is love.

Coba saya urutkan pikiran saya ya. Ruwet soalnya.

Rhiannon tidak pernah mengenal “A” sebelumnya. “A” sendiri (sekali lagi) tidak memiliki gender, usianya entah berapa, wajahnya entah bagaimana. Rhiannon hanya mengenal “perhatian A” . Rhiannon bisa jatuh cinta pada “A” karena perlakuan dan perhatian “A” .

Hanya “A” yang menyediakan telinganya untuk mendengar cerita Rhiannon.
Hanya “A” yang menemani Rhiannon ketika dia kesepian.
Hanya “A” yang mau bersusah payah untuk dekat dengan Rhiannon.

the next thing she know is she loves “A”. 

entah makhluk apa “A” ini.
entah apa jenis kelamin “A” ini.
entah cowo entah cewe.
She loves “A”

Agak semi-semi mendukung LGBT ya? Heheheeheee…
Tapi ya mungkin emang gitu sih ya.

Rhiannon ga cinta sama “A” karena dia cowo ganteng, pun Rhiannon ga cinta sama “A” karena dia cewe cantik. Love is love. Ga milih gitu lho. Cinta itu datang begitu saja.

Rumit sekali. Somehow saya juga percaya : Love is love sih.
Saya pernah tanya sama seorang teman saya yang memang orientasi seksualnya lain. Kok bisa sih naksir sesama begitu? *btw ini saya nanya murni dari curiosity ya, ga rese mau ceramahin. Enggak. Bisa-bisa saya yang diceramahin, wong temen saya ini lebih pinter kok.

Terus jawabnya adalah : Lha lo kenapa naksir cowo? kok ga naksir cewe?

Lah bener juga ya… rasa suka, naksir, lalu kemudian cinta itu muncul setelah kita kenal pribadinya, kenal pemikirannya dan kenal perhatiannya. Dan ketiga hal ini ga punya gender kan?

Ahh saya juga masih bingung tentang hal ini. Mungkin butuh seumur hidup untuk paham cinta secara utuh dan menyeluruh. Yang pasti dari film ini saya menangkap bahwa rasa perhatian itu obat yang paling ampuh. Untuk dekat dengan seseorang itu perlu proses dan tidak bisa instan.

and now that I have a kid, rasanya saya harus menabung perhatian dan memupuk cinta ke anak ini. Karena rasanya saya akan sangat bersalah sekali kalau saya tau anak ini kesepian sampe caper norak macem Rhiannon gitu.

Hmmmmm… berat amat. Iya sih, sekarang baca apa, nonton apa, pola pikir saya kok jadi geser ke anak saya. Waduu ntar kalau dia yang ngalamin gimana nih.. Musti ngapain sayaaaa??!????

Parenting is hard. Percayalah. Belajar dulu yang banyak.

Salam.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s