Posted in Grow up, parenting

[TB Pada Anak] : Terapi.

Part 1 : [TB Pada Anak] : Diagnosa.

Ini lanjutan post yang di atas ya.

Part 1 ceritanya sampai dirujuk ke Profesor Doctor Dokter Bambang Supriyatno, Spa (K). Dokter Spesialis Paru Anak yang praktek di RS Hermina Jatinegara dan kami memutuskan siang itu juga bablasan dari Hermina Depok ke Hermina Jatinegara.

Suami sebenarnya agak ragu mau cuss langsung berangkat ke Jatinegara mengingat jadwal praktek dr Bambang hanya sampai jam 12 siang, dan waktu itu sudah hampir 10.30. Belum lagi Depok-Jatinegara itu jauh banget kan ya.

Tapi ya berhubung saya udah adrenalin tinggi plus pikiran dah kemana-mana ya saya ngotot aja telpon untuk daftar aja. Udah lah sejadinya lah hari itu. Yang jelas saya ga mau pulang cuma dengan result terakhir vonis nya bu dokter Hermina Depok tadi. Saya mau seenggaknya ada analisis yang lebih comprehensif lah.  Ga trima aja intinya.

Khawatir juga kalau ditunda lagi hasil tes mantoux nya keburu ilang kan. Ga kelihatan lagi itu ntar benjolannya seberapa.

Cuss lah nekat ke Jatinegara. Berharap pendaftarannya aja yang sebenernya sampai jam 12. Prakteknya mah seselesainya pasien. Ngarep sengarep ngarepnya.

daruma

Sampai Hermina Jatinegara, ternyata masih harus daftar pasien baru lah apa lah segala macem, tapi masih beruntung kami masih bisa konsultasi ke dr. Bambang hari itu. Antrinya puanjanggg bukan main.

Sembari nunggu antrian, saya mulai tengak-tengok pasien lainnya. Mungkin karena ini section dokter spesialis ya –dr. Bambang spesialis paru anak, sebelahnya spesialis jantung anak, sebelahnya lagi kayaknya spesialis mata apa ya lupa saya — jadi ya anak-anak yang berobat pun sepertinya tampak memerlukan perawatan khusus.

Sebelah saya ada orang tua baru (anaknya masih bayi banget) sedang ngobrol dengan ortu pasien lain bilang kalau katup jantung anaknya sudah mulai nutup. Ya Lorrdd…
Ada beberapa anak juga yang pakai feeding tube dan tetap lari-lari kemana-mana. So happy mereka tetep ceria ya.

Sampai giliran kami. Mulai lah kami ceritakan tentang diagnosa TB yang kami dapat, berapa dokter yang kami temui sambil menunjukan bekas tes mantoux dan foto Rontgen anak.  Tes Mantoux nya sebenarnya sudah expired ya, karena katanya sih hasil optimum didapat ketika observasi hari ketiga. Sedangkan kami ke dr.Bambang sudah di hari ke 4. Walaupun ya benjolannya masih ada dan cukup noticeable. 

dr. Bambang kemudian mengecek detak jantung dan mungkin suara paru (??) dengan stetoskop. Lanjut cek apakah ada pembengkakan kelenjar atau tidak.

Yoshhh.. masuk ke sesi konsultasi.

dr.Bambang bahkan ga ngecek bekas tes Mantoux nya btw. Karena ya noticeable tadi.  Dari sebrang meja juga udah kelihatan masih ada benjolannya. Rontgen juga cuma dipegang-pegang aja.  Beliau langsung saja menjelaskan apa yang bisa dilakukan sekarang.

dr. Bambang ga langsung bilang ini positif TB nih Pak, Buk. Di akhir sesi kayaknya baru bahas.

dr. Bambang memberi opsi bagaimana kalau kita observasi lagi sisa benjolan hasil tes mantoux ini 1 minggu lagi. Kalau bekasnya hilang ya sudah, brarti ini false result saja. Tapi kalau memang masih ada sisa benjolan, permukaan kulit di bekas suntikannya masih belum kembali seperti semula. Ya sudah, jangan denial. Harus mantab kalau ini memang positif dan silahkan kembali untuk mulai terapi.

Di satu sisi ada harapan tumbuh lagi. Di sisi lain, saya cuma merasa kami dikasih napas aja untuk memproses semua kejadian ini. Suami masih optimis, saya udah realistis saja.  the sooner the better. makin cepat kita beresin ini penyakit makin gampang urusannya kan.

Appreciate aja dikasih 1 minggu untuk menenangkan pikiran.

Dan betul setelah 1 minggu, masih ada sisa warna merah dan permukaan kulit bekas suntikan tes mantoux masih belum rata seperti kulit biasa. Oke ga usah banyak mikir,  kami kembali untuk lanjut mulai terapi.

Menurut dr.Bambang, Aru terinfeksi TB LATEN yang artinya bakteri yang ada dalam tubuh Aru dalam kondisi dormant atau tidur. Jadi Aru ini pernah berdekatan dengan penderita TB aktif (yang sampai sekarang kami ga tau siapa) dan ada bakteri yang terhirup lalu tinggal di badannya. Indonesia ini endemik TBC btw,  bisa jadi orang terinfeksi TB tapi dia ga tau. Karena bakteri TB bisa saja masuk terus tinggal dalam kondisi dormant tadi dan tidak menunjukkan gejala apa-apa.

Bakteri yang dormant ini bisa jadi bahaya. Betul dia tidak langsung menginfeksi. Tapi kalau daya tahan tubuh sedang dropm atau ternyata terinfeksi virus lain macam HIV atau apalah bisa jadi penyakit yang muncul akan lebih parah daripada sekedar TBC aktif. Semacam bisa melipat gandakan efek sakitnya gitu loh. Padahal TBC aktif saja kan udah bahaya to?

Kabar baiknya adalah pengobatan untuk TB laten ini bisa dilakukan dengan terapi selama 3 bulan saja. Ga sampai 6 bulan. 3 bulan saja cukup katanya untuk kemudian diobservasi. Dengan catatan kondisi tubuhnya membaik, dalam kasus Aru ya berat badannya naik.

Obat yang diberikan oleh dr.Bambang berupa puyer yang harus dikonsumsi setiap hari selama 3 bulan mendatang. Puyer harus diminumkan ketika perut kosong. Jadi disarankan untuk diminumkan di pagi hari sebelum makan apa pun. Kalau kata dr.Bambang biasanya subuh deh tuh buk, dikasih puyernya. Nanti jeda 30 menit boleh minum susu atau jeda 1 jam boleh makan.

Obat TIDAK BOLEH skip, karena bisa menciptakan resistensi terhadap obat. Kalau skip bakterinya bisa kebal terhadap obat dan perlu pengobatan lebih lama dengan dosis yang lebih tinggi. Makin repot lah intinya.

Selain obat puyer yang untuk TB tadi, Aru juga diresepkan multivitamin yang mengandung curcuma untuk menjaga kinerja hati dan menambah napsu makan.

Bhaiiikkklahh… kita mulai episode minum obat TB setiap pagi.

Saya simpan rasa denial, ga terima, malas ,protes dan rasa aneh lainnya di box paling bawah di otak saya. Sudah, telan saja semua ini. Kita bereskan sekarang supaya ga jadi tambah gede masalahnya.

Awalnya saya sudah bersiap-siap kalau-kalau prosesi minum obat ini akan sangat challenging. Tapi ternyata ga sesulit yang saya bayangkan. Aru cukup kooperatif. Paling cuma butuh waktu 1 minggu untuk bikin kebiasaan baru minum obat jam 6 pagi. Selanjutnya dia sudah santai saja duduk di high chair nya untuk disuapin puyer dan vitaminnya. Good job!!

Bapaknya Aru juga saya minta untuk belajar kasih minum obat. Siapa tau nanti ada momen dimana saya lagi ngapain gitu kan dan Bapaknya yang harus kasih obat. Ya sebenernya bisa-bisa aja Bapaknya kasih obat, tapi anak kecil itu beneran ngerti pola loh. Dia bisa aja ogah minum obat kalau yang nyuapin obat bukan yang biasanya. Pola ini yang mau saya hindari.

1 hari.. 2 hari.. 1 minggu.. 2 minggu… 1 bulan.
Saatnya kontrol lagi.

Setelah 1 bulan minum obat, berat Aru naik 500 gram. dari 7.8 kilo jadi 8.3 kilo. Woahhhh seneng luar biasa kami 1 rumah sampai pengen syukuran rasanya. Ini kenaikan berat badan terbanyak setelah sekian lama. Ketika kontrol pun, dr.Bambang menyebutkan kalau pertanda bagus berat badannya mulai naik. Berarti infeksi bakterinya bisa mulai ditekan.

Bersamaan dengan pengobatan ini, pola makan Aru kami perbaiki. Kami disiplinkan waktu makannya. Konsumsi protein kami tambah. Susu kami ganti susu Nutrinidrink yang High Calorie. Everything. Anything. Kami gas pol lah pokoknya.

Catatan : Stok sabar saya tambah. karena nyuapin bayi 3 kali sehari itu masih tetep bikin frustasi ya. -Gofood chatime tiap hari yuk marii-

Sampai akhirnya 3 bulan pengobatan kami jalani, Aru pernah punya berat badan 9.3 kilo!!! Rekor duniaaaa… dunia kami aja sih. But still , ini pencapaian tertinggi di hidup saya!

img-20190812-wa0001-118144347.jpg
Pipi tembem 9.3 kilo!!

Walau setelah itu turun di bawah 9 kilo lagi
karna batuk-pilek-diare
dan setress penyesuaian belajar masuk Daycare.
cactus

5 September 2019 adalah hari terakhir Aru minum obat TB.
3 bulan disiplin tanpa kasih kendor minum obat TB selesai sudah.

Kami kontrol kembali di bulan ketiga, dr. Bambang menghentikan pemberian obat TB dan hanya meresepkan multivitamin untuk tetap menambah napsu makan dan menjaga daya tahan tubuh saja. Kami diminta kembali 1 bulan kemudian untuk observasi lagi. PR kami masih sama : Mengejar berat badan.

Saat post ini ditulis, saya sedang menyiapkan hati dan pikiran untuk kontrol lagi minggu depan.  Deg-degan banget karena kok ya sekarang Aru sedang batuk pilek dan beratnya sempat turun. hadeeehhhh…
Seumur-umur saya tuh ga pernah peduli sama timbangan berat badan loh. Cuma kalau pas lagi mau nimbang anak aja nih saya berasa mules-mules.

Semoga hasilnya baik. Semoga infeksi TB nya sudah bersih. Semoga Aru sehat selalu.

Amin. Amin. Amin.
Lord have mercy.

Salam.

3 thoughts on “[TB Pada Anak] : Terapi.

  1. Aku monangis bacanyaaaaaaaaa.
    Hebat, Aru!! Semangat ya anak manis. Sehat-sehat terus, hepi dan nikmatin hidup kek Emak Bapaknya.

    Itu seriusan Mba bakterinya ditularkan karena Aru pernah berdekatan sama penderita TB aktif? Trus gimana taunya kalo pas habis melahirkan, kita dijenguk temen-temen dan ngga tau siapa kena sakit apa. Huhuhu.. baiknya tau diri kali ya Mba kalo sakit, jangan jenguk bayi tapi kirim uang aja 1 M. Hahaha.

    Great job juga buat Mba Dan sama Mas Prabu!

    Liked by 1 person

    1. masih ga ngerti lho ini ketularan sapa. dirunut saudara, tetangga, sampai tetangga nenek kakeknya pas dulu sempet main ke sana juga.
      masa iya ketularan pas main di mall ? ga ngerti deh ini.
      Serba salah sih acara jenguk menjenguk ini. =( tapi kl TB dan aktif emg harus ga boleh kemana-mana sih sampai sembuh bener. karna bisa nularin. dan mustinya orang TB aktif nyadar ya kl dia sakit.
      Kl yg TB laten gitu ga bisa nular.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s